Arsip Blog

Rabu, 18 September 2013

Dakwah Nabi Saw Periode Madinah




Menurut Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, di dalam Kitabnya Ar Rahiq Al Makhtum (1421 H / 2001 M) a.b. Hanif Yahya et al, Jakarta: Darulhaq, 2011 M. Menyatakan bahwa dakwah Nabi pada Periode Madinah dilakukan melalui:
1. Membangun Masjid Nabawi
Saat Nabi Muhammad Saw tiba ke Madinah, beliau tinggal di perkampungan Bani An-Najjar pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal tahun 1 H (27 September 622 M). Beliau turun di lokasi depan rumah Abu Ayub. Beliau berkata: "Di sinilah tempat berhenti, insya Allah."
Langkah yang pertama-kali beliau bangun adalah Masjid Nabawi. Masjid tersebut didirikan di lokasi tempat unta tersebut duduk.
Masjid berdiri sangat sederhana, terbuat dari batu, tiangnya dari pohon kurma, dan atapnya pelepah kurma.
Masjid dipergunakan untuk ibadah shalat, di samping itu masjid digunakan untuk belajar, musyawarah, pertemuan kabilah-kabilah, dan pangkalan untuk mengatur semua urusan. Pada permulaan hijriyah disyariatkanlah adzan, suara lantunan yang menggema di angkasa, setiap hari lima kali.
2. Mempersaudarakan sesama kaum muslimin
Setelah mendirikan masjid. Menurut Ibnu Qayim: "Selanjutnya Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di rumah Anak bin Malik. Mereka berjumlah 90 orang, sebagiannya berasal dari Muhajirin dan sebagiannya dari Anshar." Mereka dipersaudarakan dengan pernikahan dan persaudaraan yang kokoh.
Persaudaraan ini bermakna leburnya fanatisme golongan, etnis, bahasa, negara, warna kulit, dan status sosial, yang ada adalah Islam. Sebagai contoh, sebagaimana diriwayatkan Imam Al-Bukhari, bahwa Nabi mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Ar-Rabi'. Kemudian Saad berkata kepada Abdurrahman: Kami mempunyai banyak harta, maka bagilah hartaku menjadi dua, sebagiannya untukmu dan sebagiannya untukku. Aku punya isteri dua, maka lihatlah, kamu menginginkan yang mana, nanti salah-satu isteriku akan aku ceraikan, bila selesai massa iddahnya maka nikahilah dia." Abdurrahman menjawab: "Semoga Allah memberkahimu di dalam keluarga dan hartamu. Cukup, tunjukkan saja padaku dimana pasar?" Kemudian ditunjukkan pasar Bani Qainuqa, maka pergilah Abdurrahman ke pasar tersebut. Dan setiap pulang dari pasar, ia membawa keuntungan keju dan minyak samin (margarine). Beberapa hari kemudian, Abdurrahman membawa rona kuning (tanda orang yang baru saja nikah), ditanya: "apa beritamu?" dijawab "Aku sudah menikah." ditanya lagi "Berapa maharnya?" dijawab: "sebutir biji emas."
Demikianlah, contoh ikatan persaudaraan yang hebat penuh berkah. Di satu pihak memiliki sifat kaya hati (ingin memberi), dan di pihak lain juga memiliki kaya hati (ingin memberi). Contoh lain: Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa orang-orang Anshar berkata kepada Nabi: "Bagi-bagikanlah pohon korma diantara kami dan saudara-saudara kami. Nabi menjawab: "Tidak." lalu mereka (kaum Anshar) berkata: "Kalau begitu silahkan kalian cukupkan pangan untuk kami dan kami akan menyertakan kalian dalam (panen) buah kurma." Mereka menjawab: "Kami mendengar dan mentaati."  Demikianlah kebesaran hati ditunjukkan oleh Kaum Anshor dan Kaum Muhajirin.
3. Piagam kerjasama umat Islam
Nabi Muhammad Saw bermaksud mengikis fanatisme kesukuan dan dendam kesumat pada masa jahiliyah, maka beliau membuat perjanjian-perjanjian isinya antara lain:
(1) Bahwa mereka adalah satu umat
(2) Bahwa kaum mukminin tidak akan membiarkan ada orang yang dililit hutang dan tidak mampu membayarnya diantara mereka, dengan cara memberinya secara makruf, baik dalam hal tebusan atau diyat.
(3) bahwa orang yahudi yang berdamai dengan umat Islam maka dia berhak mendapat pertolongan dan perlakuan sama, tidak terzalimi, dan tidak tertindas.
(4) Bahwa barangsiapa yang membunuh tanpa hak maka dia diqishash (dihukum mati), kecuali bila wali korban merelakannya.
(5) Dan yang lainnya
4. Sumbangsih nilai moral terhadap masyarakat
Perkembangan masyarakat muslim di Madinah yang semakin baik, tidak lepas dari figur kepribadian Nabi Muhammad Saw. Beliau menyampaikan pengajaran, pendidikan, penyucian diri, dan ajaran perilaku yang mulia. Beliau memberi contoh dan mengajarkan kasih sayang, bersaudara, kemuliaan, ibadah, dan ketaatan.
Abdullah bin Salam berkata: "Ketika Nabi tiba di Madinah, aku pun datang, Maka tatkala aku sudah jelas melihat wajahnya, tahulah aku bahwa wajahnya bukan wajah pendusta."
Hal pertama yang diucapkannya: "Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali kekerabatan, shalatlah pada malam hari sementara orang-orang sedang tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan penuh kedamaian." (HR. Attirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi).
Peperangan untuk Mempertahankan Diri
Saat Nabi dan para sahabat sudah tenang di Madinah. Kafir Quraisy Mekkah terus merencanakan penyerangan kepada Nabi dan Umat Islam.
Perang Badar
Terjadi pada Jumat, 17 Ramadhan tahun 2 hijriyah, pasukan muslim berjumlah 313 orang di bawah pimpinan Rasulullah Saw, berhadapan di daerah Badar dengan Pasukan Quraisy berjumlah 1.000 orang.
Pasukan Muslim berhasil mengalahkan pasukan Quraisy, pimpinan mereka yaitu Abu Jahal mati terbunuh dalam peperangan itu. Yang gugur 14 orang dari pasukan muslim adapun dari pihak kafir yang tewas 70 orang, ditawan 70 orang, ke banyak dari mereka para ksatria dan komandan. Sedangkan sisanya tunggang langgang, berhamburan melarikan diri.
Perang Bani Qainuqa, Perang Uhud, dan Perang Khandaq
Pada pertengahan bulan Syawwal tahun 2 H, Bani Qainuqa melanggar perjanjian, kemudian Pasukan Muslim menyerang dan mengepung benteng Bani Qainuqa selama 15 malam, sampai akhirnya mereka menyerahkan diri.
Perang Uhud terjadi pada tahun 3 Hijriyah. Perang Ahzab (Perang Khandaq) terjadi pada bulan syawwal tahun 5 H.
Sesudah melaksanakan haji wada', Nabi Muhammad Saw wafat di usia 63 tahun, pada hari senin, tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah (8 Juni 632 M).
Penutup
Nabi Muhammad Saw mengembangkan Islam dengan kedamaian dan kasih sayang. Hal itulah yang membuat Agama Islam semakin berkembang. Beliau juga mengembangkan strategi persaudaraan untuk membangun solidaritas umat Islam, adapun terhadap non-Muslim Beliau mengaadakan serangkaian perjanjian damai. Namun, bagi kaum kafir yang hendak menyerang umat Islam, maka Nabi dan para sahabat berupaya mempertahankan agama Islam sehingga terjadilah beberapa pertempuran. Dalam pertempuran tersebut Umat Islam meraih banyak kemenangan.
@dudi akasyah ihsan
Jam 22:18, Rb 02-01-2013
----------------
Sumber bacaan:
-          Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, di dalam Kitabnya Ar Rahiq Al Makhtum (1421 H / 2001 M) a.b. Hanif Yahya et al, Jakarta: Darulhaq, 2011 M
-          Sumber yang lainnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar